Jangan Abaikan Sakit Gigi pada Anak

Sakit gigi mungkin menjadi salah satu penyakit yang jamak diderita masyarakat. Penyakit ini bahkan seringkali sudah dirasakan oleh anak kecil.

Namun, tidak semua orangtua mengambil tindakan serius terhadap penyakit ini jika dialami oleh sang buah hatinya. Tindakan yang diambil biasanya hanya memberikan obat pereda rasa sakit.

Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Melanie S. Djamil, perilaku tersebut memang jamak dilakukan masyarakat di Indonesia. Padahal, obat sakit gigi hanya meredakan sakitnya, tetapi tidak menyelesaikan permasalahan utama. “Jika sumber masalah utamanya tidak ditangani dengan baik maka rasa sakit itu akan terus berulang,” katanya.

Pada dasarnya, sakit pada gigi bisa diakibatkan oleh beberapa hal, mulai dari gigi berlubang, gusi berlubang, atau bahkan tulang penahan gigi di rahang yang bermasalah. Ketiga hal tersebut memiliki strategi penanganannya masing-masing.

Ketua Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia (IGAI) Ujijanto Tedjosasongko menjelaskan, salah satu masalah gigi paling sering ditemui adalah gigi berlubang.

Prevalensinya mencapai 53% pada usia 12 tahun ke atas. “Gigi berlubang atau karies gigi merupakan kelainan pada jaringan terluar gigi akibat demineralisasi,” ujarnya.

Demineralisasi terjadi karena empat faktor, yaitu gigi itu sendiri, mikroorganisme dalam mulut, waktu, dan makanan. Udijanto mengatakan, dua faktor pertama bisa dihindari. Namun, faktor makanan dan waktu yang terkait erat dengan gaya hidup lebih sulit dikurangi. Pasalnya, hal ini terkait dengan kebersihan gigi dan kebiasaan menyantap makanan tinggi gula dalam jangka waktu lama.

Selain karies atau gigi berlubang, anak-anak biasanya juga banyak menderita karang gigi. Ini adalah hasil tumpukan kotoran yang mengapur dalam jangka waktu tertentu. Karang gigi dapat memicu sejumlah masalah, seperti gusi berdarah.

Ketua IDGAI cabang Jawa Timur Sindy C. Nelwan bahkan menjelaskan karang gigi juga berisiko menyebabkan alergi berupa asma. Asma ini tidak terjadi permanen dan bergantung erat pada kebersihan gigi.

Alergi terjadi karena kuman yang menempel pada gigi akan melepaskan endotoksin bernama lipopolisakarida. Racun inilah yang meningkatkan respons imun yang berperan terhadap alergi. Ketika naik, akan terjadi hipersensitif.

Jika karies atau karang gigi terjadi pada gigi sulung, hal ini akan membuat gigi tersebut tanggal sebelum waktunya. Padahal, gigi belum sempat tumbuh. “Susunan gigi akhirnya menjadi berantakan sehingga memengaruhi proses mengunyah makanan,” ujarnya.

Akibat proses mengunyah makanan yang tidak sempurna, fungsi pencernaan dalam tubuh juga akan terganggu atau bahkan rusak. Kendati berisiko tinggi, masih banyak orangtua yang mengabaikan kesehatan gigi sulung. Alasannya karena gigi tersebut akan digantikan oleh gigi dewasa. Padahal, jika tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan masalah kesehatan di masa mendatang.

Udijanto menjelaskan masalah kesehatan gigi sebenarnya tidak turun secara genetik. Namun, akibat gaya hidup yang mirip. Anak-anak seringkali memiliki masalah yang sama dengan orangtuanya.

Salah satu upaya sederhana yang bisa dilakukan adalah sikat gigi secara rutin dua kali sehari. Namun, hindari gerakan maju mundur di permukaan gigi. Idealnya, cara yang benar adalah dengan gerakan dari atas ke bawah. “Anak-anak juga harus diperiksa ke dokter gigi enam bulan sekali,” ujarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s