Waspadai Defisiensi Testosteron

Waspadai Defisiensi Testosteron

Sumber: Bisnis Indonesia, Minggu, 23 April 2017

Defisiensi testosteron atau hipogonadisme merupakan sindrom yang dialami seorang pria dengan kadar testosteron kurang dari normal, yaitu kurang dari 300ng/ml. Seiring dengan menurunnya kesehatan seseorang, hipogonadisme bisa menyerang setiap laki-laki, terutama yang berumur di atas 40 tahun.

Dokter Spesialis Andrologi Nugroho Setiawan mengungkapkan, gejala klinis akibat testis gagal memproduksi testosteron fisiologis ini dapat dialami oleh seorang pria sejak lahir ataupun usia lanjut.

Selain disebabkan oleh penyakit bawaan, faktor terkuat lainnya yang menyebabkan seseorang mengalami defisiensi testosteron adalah gaya hidup yang buruk. Dengan keadaan seperti ini kegiatan seksual seorang pria akan sangat terganggu karena berakibat pada hasrat seksual atau libido.

Dengan testosteron yang optimal, pikiran seseorang akan lebih tajam, lebih mudah konsentrasi, percaya diri, otot berkembang, ereksi dan gairah seksualnya baik, dan kepadatan mineral tulang juga terjaga.

Gejala yang ditunjukkan oleh sindrom ini cukup banyak. Misalnya, kegiatan seksual bersama pasangan yang frekuensinya semakin jarang. Selain itu, daya tahan fisik dan tinggi badan yang menurun termasuk tanda-tanda seseorang mengalami kekurangan testosteron.

Tak hanya itu, pria yang kekurangan testosteron terancam pada penyakit metabolik, seperti kolesterol tinggi, hipertensi, dan diabetes tipe 2. Kalau sudah melihat tanda-tanda seperti ini, tidak ada salahnya bagi Anda ke dokter untuk berkonsultasi dan melakukan tes darah.

Hanya saja, terkadang pria terlalu tinggi hati atau malu untuk menemui dokter. Padahal, Nugroho mengatakan, ketidaknyamanan tersebut akan membuat kehidupan rumah tangga menjadi kurang bahagia.

Bisa dikatakan, defisiensi testosteron erat kaitannya dengan disfungsi ereksi atau berkurangnya hasrat dan kegiatan seksual. Untuk mengobati gejala tersebut, seorang dokter harus bisa mencari penyebabnya.

“Banyak pria tidak menyadari bahwa dirinya mengalami disfungsi ereksi karena memang seorang pria masih bisa ereksi dan melakukan penetrasi. Yang perlu diketahui, ereksi ada tingkatannya. Jika tidak optimal maka pasangan akan merasa tidak nyaman,” ujarnya.

Biasanya, disfungsi ereksi disebabkan oleh empat hal, penurunan hormon, dinding pembuluh darah yang mengeras, gangguan sistem saraf, dan struktur penis.

Pengobatan

Tidak perlu khawatir, kini pengobatan untuk pasien kekurangan hormon testosteron sudah ada beberapa pilihan. Dengan terapi sulih hormon, misalnya, kini memungkinkan bagi seorang pasien mendapatkan tambahan hormon testosteron sintetik sehingga kadar testosteronnya bisa naik.

Metode ini bisa berupa injeksi, obat oral, dan gel. Namun, angka keberhasilan injeksi jauh lebih tinggi, yaitu sekitar 98% dibandingkan dengan obat dokter dengan tingkat keberhasilan 60%.

Adapun waktu yang dibutuhkan untuk masa pengobatan tersebut sekitar 6-8 bulan. Sebelum melakukan terapi testosteron, risiko pasien terhadap kanker prostat harus diperiksa dengan menggunakan pengujian digital rectal dan penentuan serum prostate-specific antigen (PSA). Setelah inisiasi terapi testosteron, pasien harus dipantau untuk gejala, kadar testosteron, hematrosit dan PSA dalam waktu 3, 6, 12 bulan, atau paling tidak secara tahunan setelahnya.

“Ada beberapa stigma yang beredar mengenai sulih hormon yang salah satunya mengatakan bahwa hormon testosteron akan mengakibatkan kanker prostat. Kenyatannya, pasien kanker prostat lebih banyak ditemukan pada pria dengan testosteron yang rendah,” ujarnya.

Kita sering mendengar saran bahwa makanan-makanan seperti udang, cumi, atau jenis daging tertentu akan meningkatkan hormon seseorang. Hal itu ditampik Nugroho karena menurutnya, tidak ada makanan khusus yang perlu dikonsumsi pasien dengan keluhan hipogonadisme. “Yang paling baik adalah makanan yang bergizi dan berimbang,” tambahnya.

Testosteron sejatinya juga dimiliki oleh perempuan. Namun, jumlahnya hanya seperlima dan jumlah normal pria. Testosteron bagi perempuan berfungsi sebagai gairah. Adapun terapi pengobatan bagi perempuan yang kekurangan testosteron tidak direkomendasikan dengan menggunakan injeksi, melainkan obat oral atau gel

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s