Jangan Tunda Imunisasi

Sumber: Kompas, Selasa, 02 Mei 2017

Mutu Kesehatan Anak Jadi Kunci Bonus Demografi

Imunisasi termasuk hak anak yang tak bisa ditunda. Selain rentan kecacatan dan kematian akibat infeksi, mutu kesehatan anak yang tak divaksinasi dikhawatirkan rendah. Itu bisa mengakibatkan Indonesia tidak bisa menikmati bonus demografi yang akan dimulai tahun 2020.

Agar generasi penerus bangsa bisa produktif di masa depan, mutu kesehatan anak perlu disiapkan sejak dini. Salah satu caranya ialah tiap anak harus mendapat imunisasi dasar sesuai Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Terkait hal itu, sosialisasi dan advokasi tentang imunisasi harus lebih gencar. Itu disertai penguatan komitmen bersama kementerian atau lembaga terkait, terutama pemerintah daerah. Daerah yang tak menerapkan perintah UU tentang imunisasi dasar harus mendapat sanksi.

Hal itu mengemuka dalam sarasehan “Penuhi Hak Anak untuk Hidup Sehat melalui Imunisasi”, dalam rangka Pekan Imunisasi Dunia, Sabtu (29/4), di Balai Kota DKI Jakarta. Acara itu dihadiri Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Mohamad Subuh, pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia Hartono Gunardi, Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, dan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Titik Haryati.

Subuh memaparkan, Pasal 132 Ayat (3) UU No 36/2009 mengamanatkan tiap anak berhak mendapat imunisasi dasar agar tak kena penyakit yang bisa dihindari lewat imunisasi. Selain itu, UU No 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah mengatur soal imunisasi dan menyatakan, pemda harus memprioritaskan layanan dasar berpedoman pada standar pelayanan minimal yang ditetapkan pemerintah pusat.

Imunisasi juga termuat dalam Konvensi Hak Anak 1989 serta diatur dalam UUD 1945 dan UU No 35/2014 Perlindungan Anak. Imunisasi bertujuan menekan kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi (PD3I), seperti polio, campak, hepatitis B, tetanus, difteri, rubela, pneumonia, dan meningitis.

Karena itu, imunisasi wajib dilakukan secara persuasif. “Artinya, peningkatan pengetahuan jadi kunci. Makin sering dengar penyuluhan, kita makin tahu. Dengan pengetahuan, akan timbul kesadaran,” ujarnya.

Sejauh ini, angka anak belum mendapat imunisasi mencapai 9,7 persen dari 5 juta anak di Indonesia yang jadi sasaran imunisasi, dan 10-15 persennya ialah anak putus sekolah. “Kita harus jemput bola lewat pendekatan keluarga. Itu harus dilakukan petugas kesehatan di daerah dan logistik tersedia,” ujarnya.

Pemerintah menargetkan tahun 2017, ada 80 persen dari sasaran imunisasi divaksinasi. Vaksin itu buatan dalam negeri serta keamanannya diawasi ketat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan tiap dua tahun dievaluasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Nasaruddin Umar meminta warga mengimunisasikan anaknya dan tak perlu khawatir vaksin itu tak halal.

Sedini Mungkin

Menurut Hartono, imunisasi adalah hak anak yang tidak bisa ditunda. Sebab imunisasi adalah upaya menimbulkan kekebalan secara aktif pada penyakit infeksi. Contohnya, kanker hati bisa dicegah dengan vaksin hepatitis B. “Imunisasi hepatitis B harus diberikan dalam 24 jam setelah bayi lahir,” ujarnya.

Pemberian vaksin harus sedini mungkin. Karena itu, jadwal imunisasi wajib dimiliki semua keluarga. “Bagi anak yang imunisasinya terlambat, perlu dilengkapi imunisasinya. Tak ada imunisasi yang hangus,” ujarnya.

Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Soedjatmiko menambahkan, sekitar 40 persen dari populasi anak belum diimunisasi lengkap. “Anak sehat untuk modal saat bonus demografi. Jika kita gagal sekarang, berarti kita gagal membentuk anak di masa bonus demografi,” ujarnya.

Sementara Hendra Jamal, Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Kesehatan dan Kesejahteraan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menegaskan, imunisasi dasar lengkap bagi anak diatur dalam UU Perlindungan Anak. Itu sejalan dengan program pengembangan kabupaten atau kota layak anak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s